MENGHITUNG KEPERLUAN KALORI SESUAI AKTIVITAS DAN
DAFTAR KECUKUPAN GIZI
A. DAFTAR KECUKUPAN GIZI
Makanan yang kita konsumsi sehari-hari tak lepas
dari kandungan gizi. Namun, selama ini kita makan karena terasa lapar dan tidak
ingin sakit, tanpa memikirkan manfaat atau fungsi dari setiap bahan makanan
yang dimakan. Padahal setiap bahan makanan, seperti nasi, ikan, ayam, dan
sayuran memiliki kandungan zat gizi yang sangat kaya dan dibutuhkan. Kini
setelah mengenal ilmu gizi kita lebih memahami macam-macam zat gizi, fungsi,
dan sumbernya.
Dalam mengkonsumsi setiap jenis bahan makanan, tentu
saja memiliki takaran atau ukuran atau hitungan yang dianjurkan oleh ahli gizi.
Takaran atau hitungan ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan setiap gizi yang
dibutuhkan tubuh. Agar tubuh tidak kekurangan atau kelebihan gizi. Oleh sebab
itu, para ahli menganjurkan penggunaan kecukupan gizi (recommended dietary
allowance/RDA).
1. Pengertin Daftar Kecukupan
Gizi (DKG)
Daftar kecukupan gizi (recommended dietary
allowances/RDA) adalah tabel yang mencantukan zat gizi yang dianjurkan untuk
dikonsumsi bagi masyrakat luas. Kecukupan gizi dipengaruhi oleh umun, jenis
kelamin, aktivitas, berat dan tinggi badan, genetika, serta keadaan hamil dan
menyusukan. Namun daftar kecukupan gizi /RDA yang berlaku di Indonesia hanya
untuk zat-zat tertentu, terutama bagi zat-zat gizi yang sering menimbulkan
problem kesehatan. Seperti energi tercantum dalam daftar tersebut meski energi
tidak termasuk gizi. Energi dihasilkan dari tiga sumber energi utama, yakni
karbohidrat, lemak, dan protein. Penghitungan energi dinyatakan dalam satuan
kalori, yaitu kilogram kalori (Kgkal).
Dalam penghitungan kecukupan gizi yang dianjurkan,
faktor variasi kebutuhan individual sudah diperhitungkan, sehingga angka
kecukupan gizi yang diajurkan setingkat dengan kebutuhan rata-rata ditambah dua
kali simpangan baku (standar deviasi). Dengan demikian kecukupan yang
dianjurkan sudah mencakup lebih dari 97,5%. Dalam praktek, angka-angka yang
tertera di dalam daftar inipun dapat diterapkan untuk keperluan perorangan,
setelah diadakan koreksi dan adaptasi individual. Misalnya: seseorang dengan
usia tertentu, memiliki berat badan berlebihan dari daftar yang dianjurkan maka
kebutuhan RDA-nya harus dinaikkan sesuai dengan penambahan berat badan daftar
orang tersebut. Demikian sebaliknya. Pada orang dewasa yang berat badannya
semakin bertambah maka alokasi yang telah dirancang terlalu tinggi maka harus
diadakan koreksi menurunkan jatah pangan yang telah dirancang.
Daftar kecukupan gizi yang berlaku di negara lain
tentu akan berbeda-beda. Hal ini karena nilai batas keamanan yang berbeda-beda.
Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya batas keamanan, adalah:
1.Tingkat kesehatan gizi masyarakat yang ingin
dicapai.
2.Tingkat perekonomian/ pendapatan masyarakat
(negara) yang menentukan tingkat daya beli.
3.umur kelompok.
4.Jenis kelamin.
5.Kondisi fisik (sedang hamil atau menyusukan)
2. Fungsi DKG
Fungsi utama daftar kecukupan gizi yang dianjurkan,
adalah sebagai berikut.
a.Untuk memiliki kecukupan gizi yang telah dicapai
melalui konsumsi makanan bergizi penduduk atau golongan masyarakat tertentu
yang didapatkan dari hasil survei gizi makanan.
b.Untuk perencanaan pemberian makanan tambahan
balita dan institusi.
c.Untuk perencanaan penyediaan pangan tingkat
regional dan nasional.
Angka-angka di dalam daftar RDA merupakan nilai
rata-rata untuk kelompok populasi dan perorangan perhari. Oleh karena itu,
nilai daftar dikelompokkan ke dalam golongan umur, kelompok jenis kelamin, dan
berat badan.
Ada tabel:
Daftar kecukupan gizi/RDA yang berlaku disetiap
negara akan berubah menurut kondisi masyarakatnya dalam kurun waktu tertentu.
Oleh karena itu, daftar kecukupan gizi direvisi secara periodik, terutama bila
kondisi masyarakatnya mengalami peningkatan daya beli. Hal ini akan
mempengaruhi besarnya nilai Batas Keamanan. Biasanya bagi negara yang sudah
mapan atau stabil perekonomiannya, daftar kecukupan gizi direvisi setiap 10
tahun. Sedangkan bagi negara berkembang,perubahan itu dilakukan dalam setiap 5
tahun sekali, termasuk Indonesia.
B. PENGHITUNGAN KALORI
Memperhatikan dan memahami kegunaan zat gizi yang
dibutuhkan tubuh, sangatlah bermanfaat karena kita dapat menganalisa apakah
kita kekurangan atau kelebihan zat gizi. Pada kondisi tertentu masing-masing orang membutuhkan
gizi yang berbeda. Begitu pula untuk beberapa jenis zat gizi memiliki jumlah
kuantum berbeda yang diperlukan setiap harinya.
1. Pengertian Kalori
Tubuh membutuhkan energi yang beraal dari zat gizi
karbohidrat, lemak, dan protein. dan energi yang diperlukan tubuh ini
dinyatakan dalam satuan Kalori. Untuk mengukur satuan energi dapat menggunakan:
Joule/J yakni 1 Kal = 4,185 Kj (KiloJoules): 1 Kj =
10 J.
Satu Kalori setara dengan panas yang dibutuhkan
untuk menaikkan panas. Satu gram air
dari 14,5 C menjadi 15,5 C. jadi 1 Joules setara dengan 0,239 Kalori.
2. Fungsi Kalori
Zat gizi karbohidrat, lemak, dan protein merupakan
sumber utama energi. Di samping itu,
beberapa jenis ikatan organic dalam bahan makanan juga memberikan energi, misalnya
alcohol dan asam-asam makanan, namun dikonsumsi dalam jumlah sangat sedikit.
Sedangkan energi kimia dalam bahan makanan berasal dari energi photon/sinar
matahari dalam tumbuhan yang menjadi bahan makanan. Dengan demikian, matahari
dan tumbuhan sangat berperan penting dalam pembentukan atau pengadaan energi
bagi tubuh kita.
Energi yang dibutuhkan tubuh dapat dibagi menjadi 2
bagian, yakni:
a.Energi untuk kebutuhan fisiologis/metabolisma
basal (BM)
b.Energi untuk melakukan kerja luar.
a.Metabolisma Basal (BM)
energi basal untuk menggerakkan denyut jantung,
gerak alat pernapasan, gerak alat pencernaan, alat urogenital, sekresi
kelenjar-kelenjar, biolistrik syarat, dan sejenisnya. Energi basal adalah
energi minimal yang diperlukan tubuh dalam keadaan istirahat, mental dan fisik
dalam keadaan istirahat total, berbaring tapi tidak tidur atau paling sedikit
12 jam setelah makan dan dipengaruhi suhu ruangan sekitar 25 C.
Energi basal yang sudah digunakan oleh tubuh,
dibuang keluar dan kuantumnya dapat diukur dengan kalorimetri. Untuk mengukur
kuantum energi dapat menggunakan kalorimetri langsung dan kalorimetri tidak
langsung.
Dalam kalorimetri langsung –berdasarkan hasil
percobaan—energi yang diserap alat-alat dan air sama banyak dengan energi yang
dikeluarkan tubuh. Dalam rumus dapat dinyatakan dengan:
E = (A W). T
E = Energi yang dikeluarkan tubuh (Kalori)
A = Berat air (Kg)
W = Nilai air alat
T = TA – TP – kenaikan suhu selama percobaan ( C)
Dalam kalorimetri tak langsung, pembakaran suatu
jenis zat gizi tertentu mempunyai karakteristik khusus, yaitu perbandingan CO
terhadap O yang khusus dan setiap penggunaan 1 liter O menghasilkan sejumlah
energi tertentu pula. Perbandingan CO /O adalah Respiratory Quotient (RQ) dan
jumalh energi yang dihasilkan pada pemakaian setiap liter oksigen adalah Nilai
Kalori dari oksigen tersebut.
Table:
Data pada Pembakaran Berbagai Zat Gizi
Untuk mengetahui pembakaran setiap gram karbohisrat
murni: pembakaran karbohisrat murni diperlukan 828,8 ml Co dan nilai RQ = 1,00,
sedangkan nilai Kalori bagi oksigen 5,047 Kal perliter. Jadi pembakaran setiap
gram karbohisrat murni adalah 5,047 Kal/liter. Demikian untuk seterusnya.
Total kalori yang telah dipergunakan oleh tubuh
selama 24 jam adalah energi non-protein ditambah dengan energi yang dihasilkan
oleh protein yang dihitung melalui jumlah ureum yang diekskresikan.
Table: Data yang Berhubungan dengan Metabolisma
Non-protein
Metabolisma Basal (MB) adalah energi yang diperlukan
tubuh selama 24 jam dalamkonsidi basal. BM = Kal/24 jam. BM = 1 jam disebut
Basal Metabolisma Rate (BMR) yang dapat dinyatakan dalam:
BM
= 24xBMR
Energi basal yang dikeluarkan dari tubuh melalui
permukaan kulit, sehingga BM = Kal/m. Dan m = luas permukaan badan. Maka BMR =
Kal/luas permukaan badan per jam. Sedangkan luas permukaan badan adalah berat
badan dan tinggi badan dengan rumus:
A= B x
T x C
A = luas permukaan badan (m)
B = berat badan (Kg)
T = tinggi badan (m)
C = bilangan konstan: 71,84
BMR bagi kelompok umur dan jenis kelamin bisa
didapat dari daftar hasil penelitian yang
mempergunakan Kalorimetrik, yakni:
Table: Nilai BMR Menurut Kelompok Umur dan Jenis
Kelamin (Kal/m perjam)
BMR laki-laki lebih tinggi daripada nilai BMR
perempuan. BMR semakin menurun dengan bertambahnya usia.
b. Kebutuhan Energi bagi Kerja Luar
Energi untuk kerja luar berasal dari sumber enrgi
utama dalam bahanmakanan dan dapat diukur dengan Kalorimetri tidak langsung.
Untuk mengetahui jumlah energi/Kalori yang diperlukan tubuh dalam sehari, yakni
jumlah energi yang diperlukan untuk
melakukan berbagai jenis pekerjaan selama sehari, ditambah BM orang yang
bersangkutan. Hasilnya adalah energi yang harus disediakan bagi orang
tersebut selama sehari.
Jenis pekerjaan dikelompokkan dalam tiga bagian,
yakni: pekerjaan ringan, pekerjaan sedang, dan pekerjaan berat.
Table: Kebutuhan Energi untuk Melakukan Berbagai
Tingkatan Kerja (Kal/menit)
Jumlah energi itu harus disediakan dalam susunan
hidangan sehari bagi orang tersebut. Jika konsumsi melebihi kebutuhan tubuh
akan cepat bertambah berat badan/kegemukan dan sebaliknya. Pada konsidi akhir
ini kekurangan energi akan dipenuhi dengan
memecah jaringan tubuh untuk dijadikan bahan penghasil energi.
Table: Kebutuhan Energi Sehari Dikatikan dengan
Tingkatan BM
No comments:
Post a Comment